Breakdown2 min readCryptocurrency

Mercenary Capital dan Konsekuensinya

Crypto bukan kekurangan user, tapi terlalu banyak user yang datang tanpa…

Mercenary Capital dan Konsekuensinya

Ilusi Yang Tumbuh

Crypto bukan kekurangan user, tapi terlalu banyak user yang datang tanpa loyalitas.

Mereka masuk karena yield tinggi, point system, airdrop, atau insentif token. Begitu reward turun, mereka pindah ke protocol lain. Fenomena ini dikenal sebagai mercenary capital.

Sebuah protocol terlihat sukses karena TVL naik cepat, volume besar, dan aktivitas meningkat. Tapi pertumbuhan itu datang dari subsidi dan bukan karena kebutuhan produk.

Menurut data dari DefiLlama, total value locked DeFi pernah mencapai ratusan miliar dolar pada puncak siklus bullish. Namun modal di crypto sangat mudah berpindah karena hampir tidak ada switching cost. User hanya perlu memindahkan aset dari satu protocol ke protocol lain dalam hitungan menit.

Akibatnya, banyak protocol akhirnya berlomba menawarkan insentif terbesar dibanding membangun produk terbaik.

Studi Kasus Canton Revenue Tinggi, Tapi Earnings Negatif

Fenomena ini terlihat jelas di Canton Network.

Canton keliatan sukses. Data DefiLlama menunjukkan Canton sempat menjadi chain dengan revenue terbesar di industri crypto.

Dalam periode 30 hari, revenue mencapai sekitar $64 juta mengalahkan Tron dan Ethereum dalam chain revenue ranking.

Tapi ada detail penting yang kelewatan.

Di halaman analytics Canton di DefiLlama, token incentives dalam 24 jam tercatat sekitar $3.3 juta, sementara revenue harian sekitar $2 juta.

Artinya biaya insentif lebih besar dibanding pendapatan yang dihasilkan. Bahkan laporan yang merangkum data DefiLlama menyebut Canton menghasilkan sekitar $65 juta revenue bulanan, tapi mengeluarkan sekitar $95 juta incentives sehingga earnings akhirnya negatif sekitar $29 juta.

Ini penting karena revenue besar belum tentu berarti bisnis sehat karena protocol harus bakar uang cuma buat naikin statistik. Aktivitas yang terlihat besar itu muncul karena user dibayar untuk tetap aktif.

Konsekuensi Yang Harus Ditanggung

Mercenary capital membuat banyak protocol terlihat sukses lebih cepat dari yang sebenarnya, tapi ketika insentif mulai dikurangi, aktivitas ikut hilang.

Masalah utamanya protocol harus bergantung dengan subsidi cuma buat mempertahankan user dan statistik.

Protocol dipaksa mencetak token baru, membayar reward lebih besar, mempertahankan APY tinggi. Akibatnya tekanan jual meningkat dan bisnis ga sustain.

Sepanjang 2026 ada lebih dari 20 project crypto yang tutup, dan semuanya punya pola atau alasan yang sama yaitu “bisnisnya tidak berjalan”

Kasus ZeroLend bahkan secara eksplisit menyebut “unsustainable economics” dan “thin margins” sebagai alasan penghentian operasi.

Sementara MilkyWay yang sempat mencapai sekitar $250 juta TVL juga akhirnya tutup setelah liquidity mengering dan protocol gagal menghasilkan cashflow yang cukup untuk menopang operasional.

Pada akhirnya, banyak protocol crypto mati bukan karena teknologinya buruk, tapi karena sejak awal bisnisnya dibangun oleh ilusi statistik.

  • Tulisan ini dibuat untuk tujuan edukasi dan observasi industri, bukan financial advice atau ajakan investasi.
  • Crypto memiliki risiko tinggi. Artikel ini hanya membahas tren dan dinamika industri.
  • Data dan insight diambil dari sumber publik dan dapat berubah seiring perkembangan market.

About Aethereal

Aethereal is building the future of decentralized technology. Explore our official website, open-source projects, and community channels to learn more about the Aethereal ecosystem.

© 2026 Aethereal. All rights reserved.

Similar reports

See all